Sepenggal tulisan buta
dari lengkung alismu yang mengarah ke langit
memicu debur sinar matanya mengembun pagi
di cumbu cakrawala yang telah lelah
Michelle,petiklah gelombang dari pijarmu
Pelita satu-satu memakai busana peranmu
Disurga mana Angin akan bertukar dengan tubuhnya
Mengelupaskan janji-janji basah,lembab dengan lambaian yang berat
kusentuh paruhmu semakin menggigil dingin di kutub,
mimpi-mimpi
kuselimutkan dalam kertas malammu,debu yang menghanyutkan
sehambar laut yang merindu pantai
yang bersembunyi mencari jalan temu
Suara yang parau untuk berkemas
dan sisik langitnya yang menangis
seorang bidadari kecil menyusun gerimis
mengantar segala yang tertinggal dan tersembunyi
Temui dirimu yang terkunci rapat
oleh Tahun-tahun yang sempat berhenti merebakkan wangi
peluklah
luka,duka,suka,tangis,bahagia,sedih
dengan wangi sayapmu yang gaib
Sabtu, 31 Maret 2012
RUMAH SETELAH AKU
Kurasa ini adalah jarak tempuh yang jauh
kita terpencar bagai koin sisi mata uang,tiap sisi yang lain adalah roh misterius
dengan muka yang gelap
dan koin-koin yang kita cipta,mereka menari bimbang
berserak begitu saja mengendap dalam kertas yang tembus pandang
lalu dunia dan bayangan melemparnya diatas atap tua yang bisu
Hujan dan mendung ini adalah teman baruku yang sedikit manja dan nggilani
(kata temenku)
senyumnya yang singkat
tak lagi padat
kupeluk merdu rapuhnya kemarau sore ini sampai sepeggal malam buta
sepertiga
ku antar kau dan kehidupan ini sampai kelokan
yang tak jauh dari angannya berlari jauh kini menembus awan
menemukan kembali lingkaran dunia yang rata
kita terpencar bagai koin sisi mata uang,tiap sisi yang lain adalah roh misterius
dengan muka yang gelap
dan koin-koin yang kita cipta,mereka menari bimbang
berserak begitu saja mengendap dalam kertas yang tembus pandang
lalu dunia dan bayangan melemparnya diatas atap tua yang bisu
Hujan dan mendung ini adalah teman baruku yang sedikit manja dan nggilani
(kata temenku)
senyumnya yang singkat
tak lagi padat
kupeluk merdu rapuhnya kemarau sore ini sampai sepeggal malam buta
sepertiga
ku antar kau dan kehidupan ini sampai kelokan
yang tak jauh dari angannya berlari jauh kini menembus awan
menemukan kembali lingkaran dunia yang rata
Malaikat 26
Segumpal waktu yang tiba-tiba saja menyelinap dalam selimutku
yang senyumnya mulai menguning padi, pagutlah lagi! Langit-langit tua
kamarku
hanya tergambar wajahku yang telah dua puluh, bahkan lebih
dan lelampu yang serupa, menyerupai wangi
tahun lalu sebelumnya,
dan telah kulupakan
di pantai mana aku menulis nama-nama dan mencelupkanya
dalam debur kabut satu persatu
kemudian mataku hanya bisa mencumbuinya dari pematang yang jauh
Wahai pagi yang merapalkan banyak mantra saat bersua
Masihkah kau terbang mencari keseimbangan dengan sepasang sayapmu yang rapuh itu?
cepatlah terpejam esok kita benahi banyak janji
Wahai malam yang menyamarkan bentuk hati
Masihkah kau di sana bersua dengan malaikat yang tak religius itu?
lanjutkan hidupmu yang sebentar 'kan mengurai petang yang gelap
Begitu ingin sertakan sketsa buram ini di atas kertas-Mu penuh tulisan rapih
untuk fikiranku yang terus mengembara menelusuri palung rautnya
jauh kedalam matanya yang keperakan
mengintip mimpi yang masih menjadi mimpi
Langganan:
Komentar (Atom)