Segumpal waktu yang tiba-tiba saja menyelinap dalam selimutku
yang senyumnya mulai menguning padi, pagutlah lagi! Langit-langit tua
kamarku
hanya tergambar wajahku yang telah dua puluh, bahkan lebih
dan lelampu yang serupa, menyerupai wangi
tahun lalu sebelumnya,
dan telah kulupakan
di pantai mana aku menulis nama-nama dan mencelupkanya
dalam debur kabut satu persatu
kemudian mataku hanya bisa mencumbuinya dari pematang yang jauh
Wahai pagi yang merapalkan banyak mantra saat bersua
Masihkah kau terbang mencari keseimbangan dengan sepasang sayapmu yang rapuh itu?
cepatlah terpejam esok kita benahi banyak janji
Wahai malam yang menyamarkan bentuk hati
Masihkah kau di sana bersua dengan malaikat yang tak religius itu?
lanjutkan hidupmu yang sebentar 'kan mengurai petang yang gelap
Begitu ingin sertakan sketsa buram ini di atas kertas-Mu penuh tulisan rapih
untuk fikiranku yang terus mengembara menelusuri palung rautnya
jauh kedalam matanya yang keperakan
mengintip mimpi yang masih menjadi mimpi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar